UNDER CONSTRUCTION !!!

Senin, 26 September 2011

Mitos Di Kebun Raya Bogor Kota Bogor


Ketika Mitos Merasuki Cinta
Ada mitos yang mencuat mengenai Kebun Raya Bogor. Bahwasanya salah satu lingkungan tempat istana presidenberdiri tersebut, dapat menyebabkan kisah cinta seseorang akan berakhir setelah mengunjunginya. Pada sisi lain, banyak orang tak meragukan pula bahwa Kebun Raya “Arnoldi” ini sangatlah cocok sebagai tujuan rekreasi bersama pasangan.
Percaya mitos ketika teknologi sedang kencang berlari seperti sekarang memang menggelikan. Apalagi hal itu dikait-kaitkan dengan keutuhan cinta sepasang kekasih. Akan tetapi, begitulah sifat mitos. Tak akan berbeda seperti halnya teknologi. Terus berkembang dan hidup di tengah-tengah masyarakat sejak dahulu hingga mungkin, akhir dari pada hayat dikandung badan.
Mengapa kita berjumpa dengan mitos di kehidupan ini? Kalau kita pikir bersama-sama, Glowers, tentu saja itu adalah buah cipta dari para pendahulu kita. Mereka sengaja menghembuskan cerita-cerita “aneh” untuk menjaga kehidupan agar tetap arif dan bijaksana sampai ke anak-cucu. Niat awalnya sebagian besar seperti itu. Tapi, sekali lagi, petuah-petuah mereka yang berseliweran dari mulut ke mulut selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, begitu mengusik kehidupan kita yang sekarang – dalam beberapa hal, malah mengganggu kemajuan. Khusus mitos yang berkembang di Kebun Raya Bogor, tampaknya punya kaitan dengan tahun-tahun yang belum lama ada di belakang kita. Boleh jadi, mitos “cinta akan berakhir” di Kebun seluas 80 Hektar tersebut mulai dibangun ketika kisah cinta presiden RI pertama, Bung Karno, sedang mengalami badai nan dasyhat.
Glowers tidak percaya? Memang seharusnya tidak. Ini hanyalah satu dari sekian banyak versi dari mitos tersebut. Lagipula, mitos, memang sering kali tidak jelas sekali pun kita menelusuri asal-usulnya sejauh mungkin.
Prahara Cinta Pemimpin Revolusi
Beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia dari tangan kolonial, Soekarno telah menjadi pemimpin tertinggi bangsa. Waktu itu tahun 1950-an ketika sang presiden berkunjung ke Salatiga dalam rangka tugas kepemerintahan. Tak dinyana, di kota kecil itulah ia menemukan second lady, Hartini.
Gemuruh cinta Bung Karno tak mampu terbendung meski ia telah menikah dengan Fatmawati yang sudah hidup bersamanya di Istana Merdeka, Jakarta. Kata-kata meluncur dalam wujud surat cintanya kepada Hartini. Dikabarkan, sebagai orang timur, Hartini memang tidak sungkan untuk menerima pinangan seorang pria sekaliber Bung Karno. Masalahnya hanya keberadaan Fatmawati sebagai first lady. Ia khawatir kesediaannya menerima cinta sang presiden akan berbuntut pada gunjingan bahwa ia merusak rumah tangga seseorang, apalagi seorang pemimpin negara. Namun cinta adalah soal hati. Bung Karno semakin memperbesar bobot kata per kata menyerupai puisi dalam tulisan di suratnya kepada Hartini. Coba Glowers simak kata pamungkas Bung Karno yang menjadikan Hartini akhirnya memutuskan untuk “menyerah”.
“Tien, I can’t work without you. Meski kamu istri kedua, kamu tetap istri saya yang sah. Biarpun kamu tidak tinggal di Istana Negara, kamu tetap menjadi ratu. Kamu akan menjadi ratu yang tidak bermahkota di Istana Bogor.”
Pernikahan keduanya pun dilangsungkan di Istana Cipanas, 7 Juli 1954. Meski Hartini member syarat kepada Bung Karno untuk tidak menceraikan dan tetap menjadikan Fatmawati sebagai first lady, pada kenyataannya, pernikahan tersebut menuai amarah besar dan membuat Fatmawati hengkang dari Istana Merdeka. Protes pun bersambutan dari berbagai elemen gerakan perempuan yang kala itu sedang berupaya memberantas kesalahpahaman umat muslim dalam melakukan pernikahan poligami. Banyak kata, banyak aksi. Semenjak itu pula, rumah tangga presiden RI pertama, Soekarno berada dalam kemelut. Mungkinkah itu awal mula mitos “cinta akan berakhir” di Istana (kebun raya) Bogor dimulai?
 Kesimpulan :
Mitos berfungsi sebagai identitas lokal. Penggunaan mitos untuk penulisan sejarah harus dicermati secara kritis karena banyak kelemahan dan penentuan temporal yang tidak jelas. Mitos sengaja dibuat di antaranya untuk menonjolkan peran seseorang dengan tujuan legitimasi kekuasaan atau pembenaran atas hak dan wewenang kelompok tertentu.
(http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=817)

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar